Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Telah
berpulang ke rahmatullah sahabat dumay (dunia maya) saya. Walaupun saya tidak
mengenal lebih dekat, tapi saya tetap
berdo’a yang terbaik untuk nya di akhirat. Aamiin.
Artikel
ini saya tulis setelah beberapa hari meninggalnya alm. Melihat begitu banyaknya
teman-teman yang merasa kehilangan atas kepergian alm. yang sangat mendadak dan
mengenaskan. Siapa yang tau umur… saya pikir tak ada, bahkan orang pintar atau dukun sekalipun… ini
merupakan rahasia Allah
Tak ada
satupun manusia yang mengetahui kapan ajal nya akan tiba, hari, tanggal, jam,
menit bahkan detiknya. Tugas kita yaitu
menyembah-Nya, menyembah Allah yang telah menciptakan kita. Melaksanakan
kewajiban kita sebagai seorang hamba, dan umat bagi Rosulullah SAW.
Merenungi
hidup, itu biasa. Tanpa siapa pun kita berusaha merenungi hidup, manusia
diciptakan dengan fitrah kuat untuk memikirkan hidupnya. Karena itu manusia
dianggap sebagai makhluk atau ciptaan Allah yang selalu kepayahan.
“Sesungguhnya,
Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah…” (QS. Al-Balad :4)
“Sesungguhnya,
manusia diciptakan bersifat keluh kesah
lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila
ia mendapatkan kebaikan ia kikir..” (QS. Al-Ma’aarij : 19-21)
Manusia
begitu kepayahan, dan wujud kepayahan itu terlihat jelas dalam kehidupan, hanya
semata-mata karena ia memikirkan hidup. Diawali bagaimana ia tetap bertahan
hidup, kemudian berkembang, lalu bagaimana ia dapat hidup dengan lebih baik
dari sekarang, berlanjut lagi bagaimana
ia hidup lebih enak. Dan seterusnya…
Maka
kita sering mendengar pertanyaan yang klasik “Apa obsesi Anda dalam hidup yang
belum tercapai ?????” Dan selalu saja kita mendapatkan jawaban yang nyaris sama
“saya ingin ini… itu… begini… begitu… bla bla blaa.
Begitu
besar obsesi manusia dan begitu ragam dinamika dari obsesi tersebut. Sehingga
apabila sedikit saja nyasar dari obsesi yang diinginkannya, maka seseorang akan
merasa kepayahan (ahh, kenapa gak begini… kenapa gak begitu… ), dan ia akan
begitu menderika karenanya.
Begitu
payahnya kita memikirkan hidup, padahal hidup dan mati itu sama pastinya. Kita
pasti hidup, karena inilah hidup itu. Tapi kita pasti juga mati. Tapi
sayangnya, kita begitu gigih memikirkan
hidup yang pasti ini, dan teledor
memikirkan kepastian yang lain, yaitu mati !!!
Berapa
banyak hal tentang kematian yang kita
amati, kita resapi, bahkan kita jadikan panduan untuk hidup untuk menyongsong datangnya kematian
itu suatu hari ???
Nyaris
tak pernah ???
Mengenaskan
!!!
Ketika
kehidupan di dunia ini semakin canggih
dengan menawarkan begitu banyak kenikmatan hidup. Saatnya kita berpikir tentang
kematian, menyisakan sebagian waktu kita, untuk merenungi, bagaimana kita akan
mati…
Ya
Rabbi… betapa bodohnya kami, begitu banyak hal tentang hidup yang kita
pelajari, kita cermati dan kita nikmati sepuasnya. Tapi
berapa banyak hal tentang kematian yang telah kita ketahui ???
Sedikit
saja ???
*disalin dari buku Mati Tersenyum Esok Pagi,
penerbit Shafa Publika
Artikel PengusahaMuslim.com

turut berduka cita ia, semoga amal dan ibadahnya di terima disisi yang maha kuasa amien
BalasHapusaamiin ^_^
BalasHapusmakasih yaa