Sabtu, 30 Juni 2012

Mari, Merenungkan Kematian




Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Telah berpulang ke rahmatullah sahabat dumay (dunia maya) saya. Walaupun saya tidak mengenal lebih dekat, tapi saya tetap  berdo’a yang terbaik untuk nya di akhirat. Aamiin.

Artikel ini saya tulis setelah beberapa hari meninggalnya alm. Melihat begitu banyaknya teman-teman yang merasa kehilangan atas kepergian alm. yang sangat mendadak dan mengenaskan. Siapa yang tau umur… saya pikir tak ada,  bahkan orang pintar atau dukun sekalipun… ini merupakan rahasia Allah

Tak ada satupun manusia yang mengetahui kapan ajal nya akan tiba, hari, tanggal, jam, menit bahkan detiknya.  Tugas kita yaitu menyembah-Nya, menyembah Allah yang telah menciptakan kita. Melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang hamba, dan umat bagi Rosulullah SAW.

Merenungi hidup, itu biasa. Tanpa siapa pun kita berusaha merenungi hidup, manusia diciptakan dengan fitrah kuat untuk memikirkan hidupnya. Karena itu manusia dianggap sebagai makhluk atau ciptaan Allah yang selalu kepayahan.

“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah…” (QS. Al-Balad :4)

“Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah  lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia kikir..” (QS. Al-Ma’aarij : 19-21)

Manusia begitu kepayahan, dan wujud kepayahan itu terlihat jelas dalam kehidupan, hanya semata-mata karena ia memikirkan hidup. Diawali bagaimana ia tetap bertahan hidup, kemudian berkembang, lalu bagaimana ia dapat hidup dengan lebih baik dari  sekarang, berlanjut lagi bagaimana ia hidup lebih enak. Dan seterusnya…

Maka kita sering mendengar pertanyaan yang klasik “Apa obsesi Anda dalam hidup yang belum tercapai ?????” Dan selalu saja kita mendapatkan jawaban yang nyaris sama “saya ingin ini… itu… begini… begitu… bla bla blaa.

Begitu besar obsesi manusia dan begitu ragam dinamika dari obsesi tersebut. Sehingga apabila sedikit saja nyasar dari obsesi yang diinginkannya, maka seseorang akan merasa kepayahan (ahh, kenapa gak begini… kenapa gak begitu… ), dan ia akan begitu menderika karenanya. 
Begitu payahnya kita memikirkan hidup, padahal hidup dan mati itu sama pastinya. Kita pasti hidup, karena inilah hidup itu. Tapi kita pasti juga mati. Tapi sayangnya, kita begitu  gigih memikirkan hidup yang pasti ini, dan  teledor memikirkan kepastian yang lain, yaitu mati !!!

Berapa banyak hal tentang  kematian yang kita amati, kita resapi, bahkan kita jadikan panduan untuk  hidup untuk menyongsong datangnya kematian itu suatu hari ???
Nyaris tak pernah ???
Mengenaskan !!!

Ketika kehidupan di  dunia ini semakin canggih dengan menawarkan begitu banyak kenikmatan hidup. Saatnya kita berpikir tentang kematian, menyisakan sebagian waktu kita, untuk merenungi, bagaimana kita akan mati…

Ya Rabbi… betapa bodohnya kami, begitu banyak hal tentang hidup yang kita pelajari,  kita  cermati dan kita nikmati sepuasnya. Tapi berapa banyak hal tentang kematian yang telah kita ketahui ???
Sedikit saja ???


*disalin dari buku Mati Tersenyum Esok Pagi,
penerbit Shafa Publika

Artikel PengusahaMuslim.com

2 komentar:

  1. turut berduka cita ia, semoga amal dan ibadahnya di terima disisi yang maha kuasa amien

    BalasHapus